Dialog imajiner antara dua orang yang bernama Muslim dan David itu menyebar melalui Grup WA, Facebook dan Instragram. Dialog yang dishare berulang ulang tiap tahun, setiap memasuki bulan Desember, utamanya mendekati tanggal perayaan Natal. Dialog seperti tertera pada gambar yang saya screenshot di bawah ini:

Perdebatan mengenai boleh atau tidak mengucapkan selamat Natal, adalah perdebatan klasik dan tak pernah selesai. Masing masing kubu kukuh pada pendirian dan hujjahnya. Dan tentu saja mereka para Ulama yang berbeda pendapat itu kapabel dan berkompeten di bidangnya. Seperti beberapa Ulama yang disebutkan di bawah ini:

Postingan dari Instagram @harakahislamiyah yang menyajikan pandangan beberapa Ulama seluruh dunia.
Kita tentu tinggal memilih, mau mengikuti yang mana. Sesimpel itu sebenarnya. Dan tetaplah menjaga kerukunan antara pemeluk agama, dan antara sesama muslim. Jangan hanya karena mempertahankan pendapat masing-masing lalu kemudian kita berdebat tanpa henti dan saling menuduh munafik, kafir, liberal, sesat dan lain sebagainya. Apalagi dikait - kaitkan dengan politik elektoral, jika kubu A yang melakukan, maka dicarilah pembenarannya, jika kubu B yang melakukan maka segeralah divonis dhalim, pembawa azab dan lain lain. Ini merugikan diri sendiri, dan tentu saja: KOPLAK!
Tapi mari tarik nafas dulu, seruput kopinya, dan nyalakan semangatmu. Yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini sebenarnya bukan masalah perbedaan para Ulama, membedah pemikiran mereka, atau mengkomparasikan pemikiran kedua belah pihak, Tidak, Tidak sama sekali. saya tidak punya ilmu setinggi itu. Saya hanya ingin mengulas tentang dialog Imajiner antara Muslim dan David yang beredar luas di jejaring sosial itu. Entah siapa yang pertama kali mengarangnya, membandingkan antara ucapan "Selamat Natal" dengan "Kalimat Syahadat". Bagi saya ini logika yang ganjil. Akal saya belum bisa menerimanya. Sebuah perbandingan yang kata orang tidak Aple to Aple, Bahkan ucapan salam (Assalamualaikum Wr Wb.) pun tidak akan sepadan dengan Dua Kalimat Syahadat.
Contohnya begini, orang Nasrani tidak akan otomatis menjadi Muallaf hanya karena mengucapkan Assalamualaikum atau mengucapkan Selamat Idul Fitri. Apakah seorang Muslim otomatis murtad gara gara mengucapkan Selamat Merayakan Natal?
Bukankah itu hanya kata-kata? Ya justru karena "hanya" kata selamat natal itulah bisakah seorang muslim diklaim telah dibaptis? Oh betapa gampangnya.
Bisakah seorang Wanita yang lewat di depan rumah, tiba tiba menjadi halal digauli hanya karena kita menyapanya dengan ucapan "Selamat pagi Nona" atau Selamat Ulang Tahun ladies, misalnya. Bisakah ucapan selamat pagi Nona itu dipadankan dengan Kalimat Sakral Aqdun Nikah? Tidak kan? Hehe
Saya berhusnudzon bahwa dialog imajiner itu tujuannya baik, tapi analogi dan komparasi dalam dialog yang disusun berlebihan dan menurut saya tidak tepat.
Salam 🙏

Perdebatan mengenai boleh atau tidak mengucapkan selamat Natal, adalah perdebatan klasik dan tak pernah selesai. Masing masing kubu kukuh pada pendirian dan hujjahnya. Dan tentu saja mereka para Ulama yang berbeda pendapat itu kapabel dan berkompeten di bidangnya. Seperti beberapa Ulama yang disebutkan di bawah ini:

Postingan dari Instagram @harakahislamiyah yang menyajikan pandangan beberapa Ulama seluruh dunia.
Kita tentu tinggal memilih, mau mengikuti yang mana. Sesimpel itu sebenarnya. Dan tetaplah menjaga kerukunan antara pemeluk agama, dan antara sesama muslim. Jangan hanya karena mempertahankan pendapat masing-masing lalu kemudian kita berdebat tanpa henti dan saling menuduh munafik, kafir, liberal, sesat dan lain sebagainya. Apalagi dikait - kaitkan dengan politik elektoral, jika kubu A yang melakukan, maka dicarilah pembenarannya, jika kubu B yang melakukan maka segeralah divonis dhalim, pembawa azab dan lain lain. Ini merugikan diri sendiri, dan tentu saja: KOPLAK!
Tapi mari tarik nafas dulu, seruput kopinya, dan nyalakan semangatmu. Yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini sebenarnya bukan masalah perbedaan para Ulama, membedah pemikiran mereka, atau mengkomparasikan pemikiran kedua belah pihak, Tidak, Tidak sama sekali. saya tidak punya ilmu setinggi itu. Saya hanya ingin mengulas tentang dialog Imajiner antara Muslim dan David yang beredar luas di jejaring sosial itu. Entah siapa yang pertama kali mengarangnya, membandingkan antara ucapan "Selamat Natal" dengan "Kalimat Syahadat". Bagi saya ini logika yang ganjil. Akal saya belum bisa menerimanya. Sebuah perbandingan yang kata orang tidak Aple to Aple, Bahkan ucapan salam (Assalamualaikum Wr Wb.) pun tidak akan sepadan dengan Dua Kalimat Syahadat.
Contohnya begini, orang Nasrani tidak akan otomatis menjadi Muallaf hanya karena mengucapkan Assalamualaikum atau mengucapkan Selamat Idul Fitri. Apakah seorang Muslim otomatis murtad gara gara mengucapkan Selamat Merayakan Natal?
Bukankah itu hanya kata-kata? Ya justru karena "hanya" kata selamat natal itulah bisakah seorang muslim diklaim telah dibaptis? Oh betapa gampangnya.
Bisakah seorang Wanita yang lewat di depan rumah, tiba tiba menjadi halal digauli hanya karena kita menyapanya dengan ucapan "Selamat pagi Nona" atau Selamat Ulang Tahun ladies, misalnya. Bisakah ucapan selamat pagi Nona itu dipadankan dengan Kalimat Sakral Aqdun Nikah? Tidak kan? Hehe
Saya berhusnudzon bahwa dialog imajiner itu tujuannya baik, tapi analogi dan komparasi dalam dialog yang disusun berlebihan dan menurut saya tidak tepat.
Salam 🙏


Komentar