Pagi yang kelabu. Pesan berantai itu dikirim memenuhi linimasa media sosial, menjejali grup grup wa dan Facebook, Viral. Tentang perbuatan tercela remaja tanggung seusia SMA, foto mereka tertunduk malu, semua identitasnya, mulai dari keluarga sampai tempat di mana ia belajar menyebar kemana - mana.
.
Sekolah yang sering kita sebut sebagai bengkel moral, seringkali menjadi satu satunya institusi yang paling bertanggung jawab atas segala keburukan yang terjadi. Mulai dari perkara mencuri peniti sampai masalah korupsi. Anggapan itu tentu tidak salah, tapi tidak sepenuhnya benar, karena pendidikan itu ada 3 aspek yg paling menentukan karakter seseorang: 1. Keluarga, 2. Sekolah, 3. Lingkungan.
.
Sekolah yang sering kita sebut sebagai bengkel moral, seringkali menjadi satu satunya institusi yang paling bertanggung jawab atas segala keburukan yang terjadi. Mulai dari perkara mencuri peniti sampai masalah korupsi. Anggapan itu tentu tidak salah, tapi tidak sepenuhnya benar, karena pendidikan itu ada 3 aspek yg paling menentukan karakter seseorang: 1. Keluarga, 2. Sekolah, 3. Lingkungan.
Pendidikan dalam keluarga menjadi hal yang utama, karena di dalam keluargalah pendidikan itu dimulai. Kita pun seringkali mendengar, hadits Nabi yang seringkali dikutip dalam acara walimatul aqiqah: "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), maka orang tualah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi".
Seorang anak yang berangkat ke sekolah bukanlah mereka yang sedang galau atau "bermasalah" dengan keluarganya, sehingga mereka melampiaskan kekesalannya di sekolah, kepada teman atau bahkan pada gurunya. Semestinya anak anak kita pergi ke sekolahnya dengan perasaan riang, damai dan penuh kasih sayang dari orangtuanya. Bukan sebaliknya mereka datang membawa masalah dari dalam keluarganya, lalu kemudian sekolah dianggap "bengkel" yang bisa mengatasi segala macam penyakit kronis. Sekolah adalah tempat di mana mereka menemukan suasana yang nyaman untuk belajar, bertemu guru penuh perhatian yang dengan ikhlas berbagi ilmu dan pengalaman.
Sinergi antara Keluarga, Sekolah dan Lingkungan secara Istiqomah memang mutlak dilakukan secara harmoni. Orangtua tidak perlu marah marah mendatangi sekolah hanya karena anaknya dicubit oleh guru, karena si anak ketahuan mencuri pensil temannya. Apalagi sampai melaporkan guru ke kepolisian. Hal ini tentu saja naif.
.
Demikian pula dengan lingkungan, baik lingkungan di sekitar sekolah maupun lingkungan di mana si anak tumbuh dan bergaul. Sebaik apapun pesan pesan moral didapat di sekolah akan percuma jika keseharian anak kita bergaul dengan lingkungan yang salah.
.
Kita tentu sepakat bahwa tidak ada pendidikan yang mengajarkan kriminalitas kepada anak didiknya. Ibarat kata: seorang pendidik itu hanya penyampai kebaikan kebaikan, tidak punya kuasa memaksakan kehendaknya.
.
Singkat kata, tidak ada yang menginginkan perilaku tercela itu terjadi pada anak, siswa atau sanak saudara. Tapi hukum media sosial itu telah bersabda: "Keburukan lebih mudah diviralkan dari pada kebaikan". Dan kitapun ikut serta mencibir dan menyebarkannya dengan bangga.
.
Demikian pula dengan lingkungan, baik lingkungan di sekitar sekolah maupun lingkungan di mana si anak tumbuh dan bergaul. Sebaik apapun pesan pesan moral didapat di sekolah akan percuma jika keseharian anak kita bergaul dengan lingkungan yang salah.
.
Kita tentu sepakat bahwa tidak ada pendidikan yang mengajarkan kriminalitas kepada anak didiknya. Ibarat kata: seorang pendidik itu hanya penyampai kebaikan kebaikan, tidak punya kuasa memaksakan kehendaknya.
.
Singkat kata, tidak ada yang menginginkan perilaku tercela itu terjadi pada anak, siswa atau sanak saudara. Tapi hukum media sosial itu telah bersabda: "Keburukan lebih mudah diviralkan dari pada kebaikan". Dan kitapun ikut serta mencibir dan menyebarkannya dengan bangga.
25 Desember 2018
Komentar
Membawa perubahan besar utk Bondowoso
Www.suheriattaqwa.com
Membawa perubahan besar utk Bondowoso
Www.suheriattaqwa.com